Kata
Pengantar
Puji
Syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya kepada kita semua sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pada
waktunya. Namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam
mencari pengetahuan yang luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami
mengucapkan kata syukur.
Terima kasih saya
ucapkan kepada dosen Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas kepada saya,
sehingga saya sedikit tahu tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang benar.
Semoga apa yang saya buat dalam makalah ini
bisa bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah pengetahuan kita tentang
penggunaan Bahasa Indonesia yang benar.
Daftar
isi
Kata
Pengantar....................................................................................................i
Daftar
Isi............................................................................................................ii
BAB
I
Pendahuluan
Latar
Belakang...................................................................................................A
Rumusan
Masalah...............................................................................................B
BAB
II
Pembahasan
Pengertian
dan Gagasan
Kata...............................................................................1
Penggolongan
Makna Kata..................................................................................2
Jenis
Perubahan Makna Kata...............................................................................3
Syarat-syarat
Pemilihan Kata atau Diksi Contoh Relaksi Makna Kata.......................4
BAB
III
Penutup
Kesimpulan.......................................................................................................C
BAB
I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Seiring perkembangan zaman, kesalahan dalam
berbahasa secara baik
yang
banyak terjadi di tengah kaum awam ataupun di kalangan yang
berpendidikan
masih sering ditemukan. Sungguh ironis bila mengetahui bahwa
masih
banyak orang yang berpendidikan atau orang-orang yang mengecap ilmu
pengetahuan
hingga perguruan tinggi pun masih melakukan kesalahan dalam
berbahasa.
Hal ini terjadi karena masih kurangnya pemahaman terhadap bahasa
itu
sendiri. Pada dasarnya bahasa merupakan cerminan kepribadian yang baik
maupun
yang buruk, cerminan keluarga dan bangsa, cerminan tatakrama dalam
bersosialisasi
dan berkomunikasi.
Bahasa ialah alat yang dipakai untuk
mengutarakan pikiran, perasaannya,
keinginan
dan perbuatan-perbuatan. Bahasa juga dapat dijadikan sebagai alat yang
untuk
dipergunakan untuk mempengaruhi dan dipengaruhi.
Bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang
digunakan berdasarkan
kebutuhan
seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk
berkomunikasi,
alat untuk mengadakan interaksi dan beradaptasi sosial dalam
lingkungan
atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.
Bahkan,
bahasa itu pula yang ikut menentukan perbedaan antara manusia dan
binatang.
B.
Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas
adalah sebagai berikut:
1. Pengertian
Dan Gagasan Kata
2. Penggolongan
Makna Kata
3. Jenis
Perubahan Makna Kata
4. Syarat-syarat
Pemilihan Kata Atau Diksi Contoh Relaksi Makna Kata
BAB
II
Pembahasan
1.
Pengertian Dan Gagasan Kata
Gagasan adalah istilah yang dipakai baik
secara populer maupun dalam bidang filsafat dengan pengertian umum "citra
mental" atau "pengertian". Terutama Plato adalah eksponen
pemikiran seperti ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
ide/gagasan adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan
cita-cita. Gagasan dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam
menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya: gagasan
tentang sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama gagasan
belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata,
maka gagasan masih berada di dalam pikiran.
Gagasan menyebabkan timbulnya konsep, yang
merupakan dasar bagi segala macam pengetahuan, baik sains maupun filsafat.
Sekarang banyak orang
percaya bahwa gagasan adalah suatu kekayaan intelektual seperti hak cipta atau
paten.
Gagasan (pikiran) adalah sesuatu (hasil
pemikiran, usulan, keinginan, harapan) yang akan disampaikan penulis kepada
pembaca atau pendengarnya. Lebih lanjut, gagasan itu akan di lengkapi dengan
fakta, data, informasi dan pendukung lainnya yang diharapkan dapat memperjelas
gagasan dan sekaligus meyakinkan calon pembacaanya (Suyono, 2004).
Menurut Widyamartaya (1990) gagasan adalah
kesan dalam dunia batin seseorang hendaknya disampaikan kepada orang lain. Gagasan berupa pengetahuan,
pengamatan keinginan, perasaan dan sebagainya. Penuturan atau penyampaian
gagasan meliputi penceritaan, pelukisan, pemaparan, dan pembahasan.
2.
Penggolongan Makna Kata
Penggolongan kata menyederhanakan pemberian
struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan
tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu
melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata,
struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena
itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan
merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa
Indonesia.
Salah satu sifat tata bahasa tradisional
ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan
kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung
arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.
a.
Pergolonggan Kata Secara Tradisional
Penggolongan Kata oleh
C. A. Mees (1957)
Kata benda atau nomen
substantivum
Kata benda ialah kata
yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata
benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata
turunan.
Kata keadaan atau nomen
adjectivum
Fungsi kata keadaan:
Fungsi predikat, yaitu
apabila menduduki fungsi predikat.
Fungsi atributif, yaitu
apabila terikat pada kata benda.
Fungsi substantif,
yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti
substantif yang bersangkutan.
Kata ganti atau
pronominal
Kata ganti adalah kata
yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi.
Macam-macam kata golongan:
Kata ganti persona,
yaitu kata yang mengganti nama persona.
·
kata ganti persona pertama, misalnya
aku, saya, kami.
·
kata ganti persona kedua, misalnya
engkau, kamu, tuan.
·
kata ganti persona ketiga, misalnya ia,
dia, mereka.
Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang
mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
Kata ganti penunjuk
ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
Kata ganti relatif
ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat
yang menjelaskan, yaitu kata yang.
Kata ganti penanya, yaitu yang
menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan
mana.
Kata ganti tak tentu, yaitu
kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata
apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
Kata kerja transitif,
yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
Kata kerja intransitif,
yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi
substantif sebagai pelengkap.
Kata kerja atau verbum
Selain itu ada kata
kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata
adalah, jadi, menjadi.
Kata Bilangan atau
numeri
Induk kata bilangan,
misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
Kata bilangan tak
tentu, misalnya kata beberapa, segala.
Kata bilangan kumpulan,
misalnya kata ketiga, berlima.
Kata bilangan tingkat,
misalnya kata kesatu, kedua, ketiga.
Kata bilangan pecahan,
misalnya kata dua pertiga, seperdua.
Kata sandang atau
articulus
Menurut fungsi dan
pemakaiannya dibedakan menjadi:
(1) kata sandang tentu,
yaitu kata yang
(2) kata sandang persona,
yaitu kata si dan sang
(3) kata sandang tak
tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.
Kata depan atau
praepositio
Kata depan dipakai
untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke,
dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitu pada, akan, dengan,
serta, antara, untuk, dan sebagainya.
Kata depan
Kata depan adalah kata
yang selalu terdapat di depan kata benda atau kata ganti dan hubungannya lebih
erat dengan kata yang mengikutinya daripada dengan kata yang ada di depannya.
Berdasarkan artinya:
Kata depan pengantar
tempat, misalnya di, ke, dari, di dalam.
Kata depan pengantar
pihak yang akan menerima bagian, misalnya untuk, buat, bagi.
Pengantar alat, kawan,
atau lawan, ialah kata dengan.
Pengantar maksud atau
tujuan, ialah akan, untuk, dan guna.
Pengantar waktu atau
tempat, misalnya hingga, sekitar, hampir.
Pengantar sebab,
misalnya atas, demi, karena, sebab, oleh.
Kata penghubung
Kata penghubung adalah
kata yang mnghubungkan kata dengan kata atau kalumat dengan kalimat yang
mendahuluinya.
Penunjuk gabungan,
ialah dan, serta, lagi, lagi pula.
Penunjuk waktu,
misalnya waktu, ketika, setelah, sementara.
Penunjuk maksud atau
tujuan, ialah agar, supaya, biar.
Penunjuk perlawanan,
misalnya tetapi, akan tetapi, melainkan.
Penunjuk sebab atau
akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
Penunjuk syarat atau
pengandaian, misalnya jika, kalau, asalkan.
Penunjuk sebab yang tak
dipedulikan atau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun,
walau sekalipun.
Penunjuk pelaku,
pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
Kata sandang
Kata sandang adalah
kata yang berfungsi untuk menegaskan kata berikutnya, kata yang disandanginya,
hingga kata itu mempunyai arti yang tentu. Yang termasuk kata sandang adalah
yang, nya, si, para, sebuah, ini.
Kata seru
Kata seru ialah kata
yang digunakan untuk melepaskan perasaan dan keluarnya pun biasanya tiada
dengan sengaja.
Berdasarkan sifatnya:
·
kata seru yang sejati, misalnya aduh,
oh, amboi, wahai.
·
Kata seru tiruan bunyi, misalnya meong,
cit, debar.
·
Kata seru yang terjadi dari kata biasa,
misalnya kasihan, sayang, masya allah, astaga, ya rabbi, dan sebagainya.
Berdasarkan maksudnya:
penyeru biasa, misalnya
kata hai.
·
Menyatakan rasa heran, misalnya wah,
wahai, astaga.
·
Menyatakan rasa sakit, misalnya aduh,
tolong.
·
Menyatakan rasa iba atau sedih,
misalnya, kasihan, amboi.
·
Menyatakan kecewa, misalnya sayang dan
celaka.
·
Menyatakan kaget bercampur sedih,
misalnya inna lillahi.
·
Menyatakan rasa lega, misalnya nah,
syukur, alamdu lillah.
·
Menyatakan rasa jijik, misalnya cih dan
cis.
Penggolonga Kata oleh
Soetarno (1976)
Kata benda
Menurut sifatnya:
·
Kata benda yang berwujud (kokret) adalah
menyatakan nama benda yang dapat dikenal dengan panca indera. Misalnya buku,
juru masak, si cebol, bulan.
·
Kata benda yang tak berwujud (abstrak)
ialah menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya
ketertiban, persatuan, ilham, peperangan.
Menurut artinya:
·
Nama jenis, misalnya buku, kota, orang,
anjing, rumah.
·
Nama diri, misalnya Lawu, Semarang, dan
sebagainya.
·
Nama zat, misalnya mas, perak, kayu, dan
sebagainya.
·
Nama kumpulan, misalnya kelompok,
rumpun, pasukan.
Kata kerja
Kata kerja adalah kata
yang menyatakan tindakan atau pengertian dinamis.
Memilik pertaliannya
dengan objek:
·
Kata kerja transitif, ialah kata kerja
yang membutukan pelengkap. Misalnya membaca, melihat, menguji, melarang,
mempertinggi.
·
Kata kerja intransitif, yakni kata kerja
yang tidak dapat dibubui pelengkap. Misalnya berludah, sampai, lalu.
Memilik hubungannya
dengan subjek:
·
Bentuk tindak atau aktif, ialah kata
kerja yang menyatakan bahwa subjek melakukan perbuatan. Misalnya lalu, pindah.
·
Bentuk tanggap atau pasif, ialah kata
kerja yang menyatakan bahwa subjek menanggapi atau dikenai pekerjaan. Misalnya
dipukul, tertunda, kehujanan.
1.
Jenis Perubahan Makna Kata
A. MACAM-MACAM MAKNA KATA
Secara umum, makna kata
dibedakan menjadi:
·
Makna denotasi
Makna denotasi adalah
makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus.
·
Makna konotasi
Makna konotasi adalah
makna yang didasarkan atas perasaan tertentu atau nilai rasater tentu disamping
makna dasar yang umum.
·
Makna leksikal
Makna leksikal adalah
makna kata sebagai satuan bebas. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna
denotasi.
·
Makna gramatikal
Makna gramatikal adalah
makna suatu satuan bahasa yang dimiliki melalui proses gramatikal.
·
Makna idiomatik
Makna idiomatik adalah
makna yang terdapat pada kelompok kata tertentu yang tidak dapat ditelusuri
asal-usul kemunculannya. Makna ini bersifatkiasan.
Contoh:
keras kepala, yang
berarti susah diatur bukan berarti kepala yang keras.
B. PERGESERAN MAKNA
KATA
Pergeseran Makna Kata adalah perubahan makna
suatu kata yang diakibatkan karena perbedaan kurun waktu pemakaian atau
pertukaran tanggapan dari panca indra yang merespon kata itu.
Kata manis akan beda
maknanya jika ditanggapi atau direspon oleh indra penglihatan. Contohnya:
wajahmu manis sekali.
C. JENIS-JENIS
PERGESERAN MAKNA
·
Meluas
Makna meluas yaitu
makna kata yang sekarang lebih luas dari makna asalnya Contoh: kata bapak,
makna asalnya adalah orang tua laki-laki, namun sekarang kata ini berlaku bagi
semua orang dewasa laki-laki yang dihormati.
·
Menyempit
Makna menyempit yaitu
makna kata yang sekarang lebih sempit atau terbatas dari makna asalnya. Contoh;
ulama, makna asalnya adalah semua orang yang memiliki pengetahuan yang luas,
tapi sekarang maknanya adalah pemuka agama islam.
·
Peyorasi
Makna peyorasi adalah
makna yang sekarang lebih rendah nilai rasanya dari makna asal. Contoh: kata
abang, kata ini digunakan untuk sebutan kakak laki-laki.
·
Ameliorasi
Makna ameliorasi adalah
makna yang sekarang lebih tinggi nilai rasanya dari makna asal. Contoh: kata
istri atau nyonya memiliki nilai lebih tinggi daripada bini.
·
Asosiasi
Makna asosiasi adalah
perubahan makna akibat adanya persamaan sifat. Makna baru hasil asosiasi ini
menunjukan makna kiasan. Contoh; kata kunci bermakna alat pengancing pintu .
Akan tetapi, dalam dunia pengajaran, kunci berarti jawaban soal-soal yang telah
disediakan oleh penbuat soal.
·
Sinestesia
Makna sinestesi adalah
perubahan makna akibat adanya perbedaan tanggapan antara dua indra yang
berbeda. Contoh: Wajahnya manis sekali.
Kata manis sebenarnya
untuk indra perasa lidah
D. PERTALIAN BENTUK
KATA
Istilah bentuk kata mengacu pada tulisan atau
ucapan suatu kata. Dalam pemkaian bahasa sering menjumpai kata-kata, baik lisan
ataupun tulisan, yang menunjukan kesamaan. Pertalian bentuk kata dibedakan
manjadi:
·
Homonim
Homonim adalah dua kata
atau lebih yang ejaan atau ucapannya sama, tetapi artinya berbeda.
Contoh: Santi sedang
menanam bunga di halaman (tanah di depan rumah). Gambar kucing itu terdapat
pada halaman dua (muka dari lembaran buku).
·
Homofon
Homofon adalah kata-kata
yang bunyinya sama, tetapi tulisan (ejaannya) berbeda.
Contoh: Masa lalu
wanita itu kurang baik (waktu/tempo). Pencuri itu dihajar massa (masyarakat).
·
Homograf
Homograf adalah dua
kata atau lebih yang ejaan atau tulisannya sama, tetapi artinya berbeda.
Contoh: Yuni sedang
makan tahu (sejenis makanan).Ia tidak tahu kalau ayah sedang marah
(mengetahui).
·
Polisemi
Polisemi adalah kata
yang memiliki banyak makna. Istilah ini menunjukan kemungkinan adanya satu kata
yang memiliki banyak arti. Makna polisemi ini berasal dari kata yng sama.
Contoh: Kakinya luka sehingga dia
tidak bisa berjalan cepat (salah satu bagian anggota badan yang menopang tubuh
dan dipakai untuk berjalan). Anak-anak pramuka itu berkemah di kaki hutan (tepi
hutan).
1.
Syarat-syarat Pemilihan Kata Atau Diksi
Contoh Relaksi Makna Kata
Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan
kata-kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana yang sesuai
dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi atau pilihan kata dalam praktik
berbahasa sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapat juga frasa
atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca
atau pendengarnya.
A.
Syarat-Syarat Pemilihan Kata
·
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah
makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang
sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung
sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna
konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah,
dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif. Makna
konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap
sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna
konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil
mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga
jamban (konotatif).
·
Makna Umum dan Khusus
Kata umum dibedakan
dari kata khusus berdasarkan ruang-lingkupnya. Makin luas ruang-lingkup suatu
kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata, maka semakin terbuka
kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya. Makin sempit
ruang-lingkupnya, makin khusus sifatnya sehingga makin sedikit kemungkinan
terjadinya salah paham dalam pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada
pilihan kata secara tepat.
·
Kata abstrak dan kata konkret
Kata yang acuannya
semakin mudah diserap panca-indra disebut kata
konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika
acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra, kata itu disebut kata
abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak mampu membedakan secara
halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak
terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut
dapat menjadi samar dan tidak cermat.
·
Sinonim
Sinonim adalah dua kata
atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya
berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Kita ambil contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua
kata tersebut tidak persis sama benar.
·
Kata Ilmiah dan kata popular
Kata ilmiah merupakan
kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, terutama
dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi
khusus. Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata
populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Jadi, kata-kata ilmiah
digunakan pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan juga terdapat pada
penulisan artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun
desertasi.
Sebelum menentukan pilihan kata, penulis
harus memperhatikan dua hal pokok, yakni masalah makna dan relasi makna, Makna
sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri
sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok,
yaitu :
·
Makna Leksikal : makna yang sesuai dengan referennya, sesuai
dengan hasil observasi alat indera atau makna yg sungguh-sungguh nyata dalam
kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang
menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
·
Makna Gramatikal : untuk menyatakan
makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak
bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna
“sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.
·
·
Makna Referensial dan Nonreferensial :
Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada
tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen,
yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna
referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial
kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen).
Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial).
A.
Syarat-Syarat Kesesuaian Diksi
Syarat-syarat kesesuaian diksi adalah
sebagai berikut:
·
Hindarilah sejauh mungkin bahasa aatau
unsur substandard dalam situasi yang formal.
·
Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam
situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan
pembicara mempergunakan kata-kata popular.
·
Hindarilah jargon dalam tulisan untuk
pembaca umum.
·
Penulis atau pembicara sejauh mungkin
menghindari pemakaian kata-kata slang
·
Dalam penulisan jangan mempergunakan
kata percakapan.
·
Hindarilah ungkapan-ungkapan usang
(idiom yang mati).
·
Jauhkan kata-kata atau bahasa yang
artfisial.
Fungsi
dari diksi antara lain :
·
Membuat pembaca atau pendengar mengerti
secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara
atau penulis.
·
Untuk mencapai target komunikasi yang
efektif.
·
Melambangkan gagasan yang di ekspresikan
secara verbal.
·
Membentuk gaya ekspresi gagasan yang
tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau
pembaca.
·
Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu
: fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan
uterans.
Diksi
terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata
benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.
Macam
macam hubungan makna :
1.
Sinonim
Merupakan kata-kata
yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa
berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna
ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.
2.
Antonim
Merupakan ungkapan
(berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna
/ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar
berantonim dengan kata kecil.
3.
Polisemi
Adalah sebagai satuan
bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh:
Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada
manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan,
seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang
berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.
4.
Hiponim.
Adalah suatu kata yang
yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa
kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna
suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab
makna tongkol termasuk makna ikan.
5.
Hipernim.
Merupakan suatu kata
yang mencakup makna kata lain.
6.
Homonim
Merupakan kata-kata
yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.
7.
Homofon.
Merupakan kata-kata
yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.
8.
Homograf
Merupakan kata-kata
yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.
BAB
III
Penutup
B. Kesimpulan
Bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang
digunakan berdasarkan
kebutuhan seseorang, yakni sebagai
alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk berkomunikasi, alat untuk
mengadakan interaksi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi
tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial. Bahkan, bahasa itu
pula yang ikut menentukan perbedaan antara manusia dan binatang.