Jumat, 12 Januari 2018

Hubungan Proses Penuaan, Stress Oktidatif, dan Peranan Anti Oksidan




Hubungan Proses Penuaan, Stress Oktidatif, dan Peranan Anti Oksidan

A.   Proses Penuaan
Penuaan adalah akumulasi perubahan progresif seiring waktu yang berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap penyakit dan kematian seiring pertambahan usia dan jumlah kerusakan akibat reaksi radikal bebas yang terus-menerus terhadap sel dan jaringan. Dengan kata lain, kerusakan struktur dan fungsi mencirikan penuaan. Kerusakan ini menyebabkan kondisi patologis dan dapatberakhir pada kematian.
Penuaan ditandai dengan hilangnya integritas fisiologis yang progresif, yang memicu gangguan fungsi dan meningkatkan risiko kematian. Kemunduran fungsi ini menjadi faktor risiko utama patologi pada manusia meliputi kanker, diabetes, kelainan kardiovaskuler, dan penyakit neurodegeneratif.
Interaksi antara radikal bebas, antioksidan, dan kofaktor penting dalam memelihara kesehatan, proses penuaan, dan penyakit yang berkaitan dengan usia. Radikal bebas menginduksi stres oksidatif yang akan diseimbangkan oleh sistem anti oksidan endogen tubuh melalui kofaktor ataupun oleh antioksidan eksogen dari asupan. Jika jumlah radikal bebas melampaui efek protektif antioksidan dan kofaktor, akan terjadi kerusakan oksidatif yang terakumulasi dan berpengaruh terhadap proses penuaan serta penyakit terkait usia seperti penyakit kardiovaskuler, kanker, kelainan neurodegeneratif, dan berbagaikondisi kronis lain.
Penuaan secara umum dapat didefinisikan sebagai kemunduran progresif efisiensi biokimia dan proses fisiologis setelah fase reproduksi kehidupan. Kontribusi radikal bebas terhadap proses penuaan terjadi sejak awal kehidupan yang makin meningkat seiring pertambahan usia. Pajanan pada tingkat sel ataupun jaringan tubuh sejak awal kehidupan ditambah dengan reaksi metabolik pada usia dewasa hingga lanjut usia berhubungan dengan terjadinya penyakit-penyakit terkait usia lanjut seperti penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit neurodegeneratif, atau diabetes.
Menjadi tua merupakan sesuatu yang natural / alamiah yang pasti terjadi pada setiap manusia. Semua orang akan menuju ke proses penuaan. Tidak seorangpun dapat menghentikan proses penuaan. Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, yaitu setelah melalui periode puncak pada usia 40 tahun, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh ”mati” sedikit demi sedikit. Tidak ada batas tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Tapi bukan berarti proses penuaan itu harus menurunkan kualitas kehidupan kita.
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki / mengganti diri dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. [ Constantinides, 1994,  dalam Nugroho, W, 2000 ].
           Proses menua merupakan proses yang terus menerus  berlanjut secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup. Proses menua pada setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh.

B.   Stress Oksidatif
Stres oksidatif adalah keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Akibatnya intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak. Literatur medis membuktikan bahwa stres oksidatif adalah penyebab utama penuaan dini dan timbulnya penyakit kronis seperti kanker, penyakit jantung, alzheimer, dan lain-lain. Stres oksidatif dapat dicegah dan dikurangi dengan asupan antioksidan yang cukup dan optimal ke dalam tubuh.
Stres oksidatif merupakan suatu kondisi yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem pertahanan antioksidan di dalam tubuh (Puspitasari dkk, 2016). Stres oksidatif merupakan ketidakseimbangan antara radikal bebas (pro oksidan) dan antioksidan yang dipicu oleh dua kondisi umum yaitu kurangnya antioksidan dan kelebihan produksi radikal bebas (Rush et al., 2005). Radikal bebas merupakan dasar untuk banyak proses biokimia dan menunjukkan bagian penting dari metabolisme. Radikal bebas didefenisikan sebagai sebuah molekul atau bagian molekuler yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbit atom atau molekular terjauh dan dapat tereksistensi sendiri (Halliwell and Gutteridge dalam Sen et al., 2010). Istilah stres oksidatif juga didefenisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi peningkatan level Reactive Oxygen Species (ROS). Dalam jumlah normal, ROS berperan pada berbagai proses fisiologis seperti sistem pertahanan, biosintesis hormon, fertilisasi, dan sinyal seluler. Akan tetapi, peningkatan produksi ROS yang dikenal dengan kondisi stres oksidatif memiliki implikasi pada berbagai macam penyakit seperti hipertensi, aterosklerosis, diabetes, gagal jantung, stroke, dan penyakit kronis lainnya.
Salah satu hipotesis konsep penuaan yang diterima sampai saat ini adalah teori stres oksidatif. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Denham Harman sebagai teori penuaan radikal bebas dan melaporkan bahwa oksigen radikal bebas terbentuk secara endogen sebagai produk sampingan proses metabolisme yang menggunakan oksigen. Teori ini kemudian dimodifikasi dengan melaporkan peran mitokondria dalam proses penuaan karena organela ini merupakan sumber utama produksi reactive oxygen species (ROS).
Radikal bebas bertanggung jawab terhadap kerusakan tingkat sel dan jaringan terkait usia. Pada kondisi normal, terjadi keseimbangan antara oksidan, antioksidan, dan biomolekul. Radikal bebas yang berlebih menyebabkan antioksidan seluler natural kewalahan, memicu oksidasi, dan berkontribusi terhadap kerusakan fungsional seluler. Radikal bebas merupakan penyebab utama terkait proses penuaan, dianggap sebagai satu-satunya proses utama, dimodifikasi oleh genetik dan faktor lingkungan; oksigen radikal bebas bertanggungjawab (karena reaktivitasnya tinggi) terhadap kerusakan tingkat sel dan jaringan terkait usia. Akumulasi radikal oksigen pada sel dan modifikasi oksidatif molekul biologi (lipid, protein, dan asam nukleat)berperan pada penuaan dan kematian sel.
Pada kondisi normal, reactive oxygen species (ROS) berperan sebagai “redox messenger” dalam pengaturan jaras interseluler. Stres oksidatif terjadi jika produksi ROS alamiah tidak dapat diseimbangkan oleh kapasitas antioksidan jaringan. ROS berlebihan dapat menginduksi kerusakan komponen seluler secara ireversibel dan menyebabkan kematian sel melalui jalur apoptosis intrinsik melalui mitokondria, sehingga memicu kerusakan DNA mitokondria, disfungsi, dan peningkatan apoptosis sel. Peningkatan apoptosis berhubungan dengan perombakan sel dan pemendekan telomer - ujung DNA yang membatasi jumlah mitosis sel. Peningkatan jumlah telomer yang hilang akibat ketidakseimbangan produksi ROS menjadi salah satu faktor dalam proses penuaan.
Akumulasi mutasi DNA mitokondria, gangguan fosforilasi oksidatif, dan ketidakseimbangan ekspresi enzim antioksidan berakhir pada produksi ROS yang berlebihan. Defek rantai respirasi mitokondria dapat menyebabkan produksi ROS yang berlebihan, yang dapat meningkatkan kerusakan oksidatif bukan saja di mitokondria tetapi juga pada kompartemen seluler lainnya.
DNA mitokondria merupakan target kunci dari radikal bebas. Identifikasi reaksi radikal bebas sebagai promotor proses penuaan menyiratkan bahwa intervensi yang bertujuan untuk membatasi atau menghambat reaksi radikal bebas diharapkan turut menurunkan tingkat penuaan dan patogenesis penyakit. Penurunan stres oksidatif dapat dicapai melalui 3 tahap, yaitu dengan menurunkan pajanan ke polutan lingkungan yang mengandung oksidan, meningkatkan jumlah antioksidan endogen dan eksogen, dan menurunkan stres oksidatif dengan menstabilkan produksi dan efisiensi energi mitokondria. Stres oksidatif endogen dapat dipengaruhi dengan dua cara, yaitu dengan mencegah formasi ROS atau menghilangkan efek ROS dengan antioksidan.

C.   Peranan Antioksidan
Antioksidan merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain. Oksidasi adalah reaksi kimia yang dapat menghasilkan radikal bebas, sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel. Antioksidan seperti tiol atau asam askorbat (vitamin C) mengakhiri reaksi berantai ini.
Antioksidan dapat diartikan sebagai molekul yang mampu menstabilkan atau menonaktifkan radikal bebas sebelum menyerang sel. Antioksidan dapat menghambat atau menunda oksidasi sebuah substrat.
Antioksidan endogen dapat dibedakan menjadi antioksidan endogen non-enzimatik (contoh: asam urat, glutathione, bilirubin, tiol, albumin, dan faktor nutrisi termasuk di antaranya vitamin dan fenol), dan antioksidan endogen enzimatik (contoh: superoxide dismutase, glutathione peroxidase, dan catalase). Pada orang normal, antioksidan endogen akan menyeimbangkan produksi ROS. Sumber terbanyak antioksidan berasal dari nutrisi terutama golongan fenol.
Beberapa mekanisme kerja antioksidan nutrisional antara lain:
1.      Menetralisir radikal bebas
2.      Mengurangi konsentrasi peroksida dan memperbaiki oksidasi membran
3.      Mendorong besi untuk menurunkan produksi ROS
4.      Menetralisir ROS melalui metabolisme lipid, asam lemak bebas rantai pendek, dan kolesterol ester
Manusia memiliki sistem antioksidan kompleks baik enzimatik maupun non-enzimatik yang bekerja sinergis untuk melindungi sel dan sistem organ dari kerusakan akibat radikal bebas. Antioksidan endogen berperan penting menjaga fungsi seluler yang optimal dan kesehatan sistemik secara umum. Pada kondisi tertentu yang dipicu oleh stres oksidatif, antioksidan endogen menjadi insufisiensi dan memerlukan antioksidan eksogen untuk mempertahankan fungsi seluler yang optimal. Antioksidan enzimatik antara lain: glutathione peroxidase, catalase, dan superoxide dismutase. Antioksidan nonenzimatik antara lain vitamin E, vitamin C, antioksidan tiol (glutathione, thioredoxin, dan asam lipoik), melatonin, karotenoid, flavonoid alami, dan lain sebagainya.
Manusia memiliki sistem antioksidan kompleks baik enzimatik maupun non-enzimatik yang bekerja sinergis untuk melindungi sel dan sistem organ dari kerusakan akibat radikal bebas. Antioksidan endogen berperan penting menjaga fungsi seluler yang optimal dan kesehatan sistemik secara umum.
Pada kondisi tertentu yang dipicu oleh stres oksidatif, antioksidan endogen menjadi insufisiensi dan memerlukan antioksidan eksogen untuk mempertahankan fungsi seluler yang optimal. Antioksidan enzimatik antara lain: glutathione peroxidase, catalase, dan superoxide dismutase. Antioksidan nonenzimatik antara lain vitamin E, vitamin C, antioksidan tiol (glutathione, thioredoxin, dan asam lipoik), melatonin, karotenoid, flavonoid alami, dan lain sebagainya.
Dasar ide FRTA (free radical theory of aging) adalah bahwa radikal bebas dan ROS lainnya terbentuk tanpa bisa dihentikan karena metabolisme, dan muncul karena aksi beberapa faktor eksogen, biomolekul yang rusak dan akumulasi kerusakan ini adalah penyebab penuaan dan penyakit yang berhubungan dengan usia. Jika FRTA benar maka antioksidan dapat memperlambat penuaan dan memperpanjang masa kehidupan.
Perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan, seperti pembatasan kalori dan olahraga, terbukti lebih baik memelihara kesehatan tubuh dibandingkan manipulasi genetik pada percobaan hewan. Suplemen vitamin antioksidan, khususnya vitamin C dan E, dan beberapa komponen sintetik dapat memperpanjang masa hidup pada model hewan. Vitamin C (asam askorbat) adalah antioksidan hidrofilik utama dan inhibitor peroksidasi lemak. Pada membran, molekul ini secara cepat menurunkan radikal α-tocopheroxyl dan LDL untuk regenerasi α-tocopherol dan menghambat propagasi radikal bebas. Vitamin E (α-tocopherol) merupakan antioksidan hidrofobik utama pada membran sel dan lipoprotein sirkulasi. Fungsi antioksidannya sangat kuat dibantu oleh regenerasi yang dipromosikan oleh vitamin C. Vitamin E dapat mencegah aterosklerosis melalui inhibisi modifikasi oksidatif. Coenzim Q (ubiquinol, CoQ) dan asam lipoik dalam bentuk tereduksi dan melatonin merupakan antioksidan yang efisien. Resveratrol (RSV) dan curcumin juga mempunyai efek anti-penuaan.
Radikal bebas terbukti memiliki peran besar dalam proses penuaan. Antioksidan dapat berperan untuk menurunkan laju perubahan akibat penuaan. Antioksidan merupakan molekul yang mampu menstabilkan atau menonaktifkan radikal bebas sebelum menyerang sel, juga dapat menghambat ataupun menunda oksidasi. Antioksidan memiliki fungsi preventif dan proteksi terhadap penyakit terkait usia.


DAFTAR PUSTAKA



Sabtu, 21 November 2015

Makalah Penggunaan Kata Dalam Bahasa Indonesia

Kata Pengantar

Puji Syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pada waktunya. Namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam mencari pengetahuan yang luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami mengucapkan kata syukur.
  Terima kasih saya ucapkan kepada dosen Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas kepada saya, sehingga saya sedikit tahu tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang benar.
  Semoga apa yang saya buat dalam makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah pengetahuan kita tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang benar.





Daftar isi

Kata Pengantar....................................................................................................i
Daftar Isi............................................................................................................ii
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang...................................................................................................A
Rumusan Masalah...............................................................................................B
BAB II
Pembahasan
Pengertian dan Gagasan Kata...............................................................................1
Penggolongan Makna Kata..................................................................................2
Jenis Perubahan Makna Kata...............................................................................3
Syarat-syarat Pemilihan Kata atau Diksi Contoh Relaksi Makna Kata.......................4
BAB III
Penutup
Kesimpulan.......................................................................................................C









BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang

  Seiring perkembangan zaman, kesalahan dalam berbahasa secara baik
yang banyak terjadi di tengah kaum awam ataupun di kalangan yang
berpendidikan masih sering ditemukan. Sungguh ironis bila mengetahui bahwa
masih banyak orang yang berpendidikan atau orang-orang yang mengecap ilmu
pengetahuan hingga perguruan tinggi pun masih melakukan kesalahan dalam
berbahasa. Hal ini terjadi karena masih kurangnya pemahaman terhadap bahasa
itu sendiri. Pada dasarnya bahasa merupakan cerminan kepribadian yang baik
maupun yang buruk, cerminan keluarga dan bangsa, cerminan tatakrama dalam
bersosialisasi dan berkomunikasi.

  Bahasa ialah alat yang dipakai untuk mengutarakan pikiran, perasaannya,
keinginan dan perbuatan-perbuatan. Bahasa juga dapat dijadikan sebagai alat yang
untuk dipergunakan untuk mempengaruhi dan dipengaruhi.

  Bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan
kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk
berkomunikasi, alat untuk mengadakan interaksi dan beradaptasi sosial dalam
lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.
Bahkan, bahasa itu pula yang ikut menentukan perbedaan antara manusia dan
binatang.

B.     Rumusan Masalah

  Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1.      Pengertian Dan Gagasan Kata
2.      Penggolongan Makna Kata
3.      Jenis Perubahan Makna Kata
4.      Syarat-syarat Pemilihan Kata Atau Diksi Contoh Relaksi Makna Kata





BAB II
Pembahasan



1.      Pengertian Dan Gagasan Kata

  Gagasan adalah istilah yang dipakai baik secara populer maupun dalam bidang filsafat dengan pengertian umum "citra mental" atau "pengertian". Terutama Plato adalah eksponen pemikiran seperti ini.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide/gagasan adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan cita-cita. Gagasan dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya: gagasan tentang sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama gagasan belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata, maka gagasan masih berada di dalam pikiran.

  Gagasan menyebabkan timbulnya konsep, yang merupakan dasar bagi segala macam pengetahuan, baik sains maupun filsafat.
Sekarang banyak orang percaya bahwa gagasan adalah suatu kekayaan intelektual seperti hak cipta atau paten.

  Gagasan (pikiran) adalah sesuatu (hasil pemikiran, usulan, keinginan, harapan) yang akan disampaikan penulis kepada pembaca atau pendengarnya. Lebih lanjut, gagasan itu akan di lengkapi dengan fakta, data, informasi dan pendukung lainnya yang diharapkan dapat memperjelas gagasan dan sekaligus meyakinkan calon pembacaanya (Suyono, 2004).

  Menurut Widyamartaya (1990) gagasan adalah kesan dalam dunia batin seseorang hendaknya disampaikan kepada  orang lain. Gagasan berupa pengetahuan, pengamatan keinginan, perasaan dan sebagainya. Penuturan atau penyampaian gagasan meliputi penceritaan, pelukisan, pemaparan, dan pembahasan.




 
2.      Penggolongan Makna Kata

  Penggolongan kata menyederhanakan pemberian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.

  Salah satu sifat tata bahasa tradisional ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.

a.       Pergolonggan  Kata Secara Tradisional

Penggolongan Kata oleh C. A. Mees (1957)
Kata benda atau nomen substantivum
Kata benda ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata turunan.

Kata keadaan atau nomen adjectivum
Fungsi kata keadaan:
Fungsi predikat, yaitu apabila menduduki fungsi predikat.
Fungsi atributif, yaitu apabila terikat pada kata benda.
Fungsi substantif, yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti substantif yang bersangkutan.

Kata ganti atau pronominal
Kata ganti adalah kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi. Macam-macam kata golongan:
Kata ganti persona, yaitu kata yang mengganti nama persona.
·         kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.
·         kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan.
·         kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka.




  Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
Kata ganti penunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
Kata ganti relatif ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat yang menjelaskan, yaitu kata yang.
Kata ganti penanya, yaitu yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan mana.
Kata ganti tak tentu, yaitu kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelengkap.
Kata kerja atau verbum
Selain itu ada kata kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi.

Kata Bilangan atau numeri
Induk kata bilangan, misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
Kata bilangan tak tentu, misalnya kata beberapa, segala.
Kata bilangan kumpulan, misalnya kata ketiga, berlima.
Kata bilangan tingkat, misalnya kata kesatu, kedua, ketiga.
Kata bilangan pecahan, misalnya kata dua pertiga, seperdua.
Kata sandang atau articulus
Menurut fungsi dan pemakaiannya dibedakan menjadi:
(1) kata sandang tentu, yaitu kata yang
(2) kata sandang persona, yaitu kata si dan sang
(3) kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

Kata depan atau praepositio
Kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke, dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitu pada, akan, dengan, serta, antara, untuk, dan sebagainya.

Kata depan
Kata depan adalah kata yang selalu terdapat di depan kata benda atau kata ganti dan hubungannya lebih erat dengan kata yang mengikutinya daripada dengan kata yang ada di depannya. Berdasarkan artinya:

Kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, di dalam.
Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya untuk, buat, bagi.
Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah kata dengan.
Pengantar maksud atau tujuan, ialah akan, untuk, dan guna.
Pengantar waktu atau tempat, misalnya hingga, sekitar, hampir.
Pengantar sebab, misalnya atas, demi, karena, sebab, oleh.
Kata penghubung
Kata penghubung adalah kata yang mnghubungkan kata dengan kata atau kalumat dengan kalimat yang mendahuluinya.

Penunjuk gabungan, ialah dan, serta, lagi, lagi pula.
Penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, setelah, sementara.
Penunjuk maksud atau tujuan, ialah agar, supaya, biar.
Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, akan tetapi, melainkan.
Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asalkan.
Penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun, walau sekalipun.
Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
Kata sandang
Kata sandang adalah kata yang berfungsi untuk menegaskan kata berikutnya, kata yang disandanginya, hingga kata itu mempunyai arti yang tentu. Yang termasuk kata sandang adalah yang, nya, si, para, sebuah, ini.

Kata seru
Kata seru ialah kata yang digunakan untuk melepaskan perasaan dan keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja.

Berdasarkan sifatnya:
·         kata seru yang sejati, misalnya aduh, oh, amboi, wahai.
·         Kata seru tiruan bunyi, misalnya meong, cit, debar.
·         Kata seru yang terjadi dari kata biasa, misalnya kasihan, sayang, masya allah, astaga, ya rabbi, dan sebagainya.

Berdasarkan maksudnya:
penyeru biasa, misalnya kata hai.
·         Menyatakan rasa heran, misalnya wah, wahai, astaga.
·         Menyatakan rasa sakit, misalnya aduh, tolong.
·         Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya, kasihan, amboi.
·         Menyatakan kecewa, misalnya sayang dan celaka.
·         Menyatakan kaget bercampur sedih, misalnya inna lillahi.
·         Menyatakan rasa lega, misalnya nah, syukur, alamdu lillah.
·         Menyatakan rasa jijik, misalnya cih dan cis.


Penggolonga Kata oleh Soetarno (1976)
Kata benda
Menurut sifatnya:
·         Kata benda yang berwujud (kokret) adalah menyatakan nama benda yang dapat dikenal dengan panca indera. Misalnya buku, juru masak, si cebol, bulan.
·         Kata benda yang tak berwujud (abstrak) ialah menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya ketertiban, persatuan, ilham, peperangan.

Menurut artinya:
·         Nama jenis, misalnya buku, kota, orang, anjing, rumah.
·         Nama diri, misalnya Lawu, Semarang, dan sebagainya.
·         Nama zat, misalnya mas, perak, kayu, dan sebagainya.
·         Nama kumpulan, misalnya kelompok, rumpun, pasukan.

Kata kerja
Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau pengertian dinamis.

Memilik pertaliannya dengan objek:
·         Kata kerja transitif, ialah kata kerja yang membutukan pelengkap. Misalnya membaca, melihat, menguji, melarang, mempertinggi.
·         Kata kerja intransitif, yakni kata kerja yang tidak dapat dibubui pelengkap. Misalnya berludah, sampai, lalu.

Memilik hubungannya dengan subjek:
·         Bentuk tindak atau aktif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek melakukan perbuatan. Misalnya lalu, pindah.
·         Bentuk tanggap atau pasif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek menanggapi atau dikenai pekerjaan. Misalnya dipukul, tertunda, kehujanan.







1.      Jenis Perubahan Makna Kata

  Makna kata adalah hubungan pertalian antara bentuk dan acuan. Contohnya kata rumah yang berarti tempat tinggal. Rangkaian bunyi r-u-m-a-h adalah bentuk suatu kata, sedangkan tempat tinggal adalah sesuatu yang diacu olehbentuk kata tersebut.

A. MACAM-MACAM MAKNA KATA

Secara umum, makna kata dibedakan menjadi:
·         Makna denotasi
Makna denotasi adalah makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus.
·         Makna konotasi
Makna konotasi adalah makna yang didasarkan atas perasaan tertentu atau nilai rasater tentu disamping makna dasar yang umum.
·         Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna kata sebagai satuan bebas. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna denotasi.
·         Makna gramatikal
Makna gramatikal adalah makna suatu satuan bahasa yang dimiliki melalui proses gramatikal.
·         Makna idiomatik
Makna idiomatik adalah makna yang terdapat pada kelompok kata tertentu yang tidak dapat ditelusuri asal-usul kemunculannya. Makna ini bersifatkiasan.
Contoh:
keras kepala, yang berarti susah diatur bukan berarti kepala yang keras.

B. PERGESERAN MAKNA KATA

  Pergeseran Makna Kata adalah perubahan makna suatu kata yang diakibatkan karena perbedaan kurun waktu pemakaian atau pertukaran tanggapan dari panca indra yang merespon kata itu.
Kata manis akan beda maknanya jika ditanggapi atau direspon oleh indra penglihatan. Contohnya: wajahmu manis sekali.







C. JENIS-JENIS PERGESERAN MAKNA

·         Meluas
Makna meluas yaitu makna kata yang sekarang lebih luas dari makna asalnya Contoh: kata bapak, makna asalnya adalah orang tua laki-laki, namun sekarang kata ini berlaku bagi semua orang dewasa laki-laki yang dihormati.

·         Menyempit
Makna menyempit yaitu makna kata yang sekarang lebih sempit atau terbatas dari makna asalnya. Contoh; ulama, makna asalnya adalah semua orang yang memiliki pengetahuan yang luas, tapi sekarang maknanya adalah pemuka agama islam.
·         Peyorasi
Makna peyorasi adalah makna yang sekarang lebih rendah nilai rasanya dari makna asal. Contoh: kata abang, kata ini digunakan untuk sebutan kakak laki-laki.
·         Ameliorasi
Makna ameliorasi adalah makna yang sekarang lebih tinggi nilai rasanya dari makna asal. Contoh: kata istri atau nyonya memiliki nilai lebih tinggi daripada bini.
·         Asosiasi
Makna asosiasi adalah perubahan makna akibat adanya persamaan sifat. Makna baru hasil asosiasi ini menunjukan makna kiasan. Contoh; kata kunci bermakna alat pengancing pintu . Akan tetapi, dalam dunia pengajaran, kunci berarti jawaban soal-soal yang telah disediakan oleh penbuat soal.
·         Sinestesia
Makna sinestesi adalah perubahan makna akibat adanya perbedaan tanggapan antara dua indra yang berbeda. Contoh: Wajahnya manis sekali.
Kata manis sebenarnya untuk indra perasa lidah


D. PERTALIAN BENTUK KATA

  Istilah bentuk kata mengacu pada tulisan atau ucapan suatu kata. Dalam pemkaian bahasa sering menjumpai kata-kata, baik lisan ataupun tulisan, yang menunjukan kesamaan. Pertalian bentuk kata dibedakan manjadi:
·         Homonim
Homonim adalah dua kata atau lebih yang ejaan atau ucapannya sama, tetapi artinya berbeda.
Contoh: Santi sedang menanam bunga di halaman (tanah di depan rumah). Gambar kucing itu terdapat pada halaman dua (muka dari lembaran buku).
·         Homofon
Homofon adalah kata-kata yang bunyinya sama, tetapi tulisan (ejaannya) berbeda.
Contoh: Masa lalu wanita itu kurang baik (waktu/tempo). Pencuri itu dihajar massa (masyarakat).

·         Homograf
Homograf adalah dua kata atau lebih yang ejaan atau tulisannya sama, tetapi artinya berbeda.
Contoh: Yuni sedang makan tahu (sejenis makanan).Ia tidak tahu kalau ayah sedang marah (mengetahui).
·         Polisemi
Polisemi adalah kata yang memiliki banyak makna. Istilah ini menunjukan kemungkinan adanya satu kata yang memiliki banyak arti. Makna polisemi ini berasal dari kata yng sama.
Contoh: Kakinya luka sehingga dia tidak bisa berjalan cepat (salah satu bagian anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan). Anak-anak pramuka itu berkemah di kaki hutan (tepi hutan).

1.      Syarat-syarat Pemilihan Kata Atau Diksi Contoh Relaksi Makna Kata

  Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata-kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi atau pilihan kata dalam praktik berbahasa sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapat juga frasa atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengarnya.
 
A.    Syarat-Syarat Pemilihan Kata

·         Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif. Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul. Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif).
·         Makna Umum dan Khusus
Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang-lingkupnya. Makin luas ruang-lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata, maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya. Makin sempit ruang-lingkupnya, makin khusus sifatnya sehingga makin sedikit kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada pilihan kata secara tepat.
·         Kata abstrak dan kata konkret
Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca-indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut dapat menjadi samar dan tidak cermat.
·         Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar.
·         Kata Ilmiah dan kata popular
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus. Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Jadi, kata-kata ilmiah digunakan pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan juga terdapat pada penulisan artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun desertasi.

  Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni masalah makna dan relasi makna, Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok, yaitu :

·         Makna Leksikal :  makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna yg sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
·         Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.
·

·         Makna Referensial dan Nonreferensial : Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial).

A.    Syarat-Syarat Kesesuaian Diksi
      Syarat-syarat kesesuaian diksi adalah sebagai berikut:
·         Hindarilah sejauh mungkin bahasa aatau unsur substandard dalam situasi yang formal.
·         Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular.
·         Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
·         Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang
·         Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
·         Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati).
·         Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artfisial.

Fungsi dari diksi antara lain :
·         Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
·         Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
·         Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
·         Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
·         Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.

Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.
Macam macam hubungan makna :
1.              Sinonim
Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.


2.              Antonim
Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.
3.              Polisemi
Adalah sebagai satuan bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.
4.              Hiponim.
Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.
5.              Hipernim.
Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.
6.              Homonim
Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.
7.              Homofon.
Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.
8.              Homograf
Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.
















BAB III
Penutup

B.     Kesimpulan

  Bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan
kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk berkomunikasi, alat untuk mengadakan interaksi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial. Bahkan, bahasa itu pula yang ikut menentukan perbedaan antara manusia dan binatang.